Diantara Jarak yang Tak Bersuara

Kita hampir karam,
bukan karena badai,
tapi karena lelah
yang tak sempat diucapkan.

Cinta ini tertatih,
menyeret langkahnya sendiri,
melewati hari-hari tanpa kabar,
tanpa sapaan,
tanpa “apa kabarmu”
yang dulu terasa sederhana.

Jarak berdiri seperti tembok,
dingin dan bisu.
Ia memisahkan tangan,
tapi gagal memisahkan rasa
yang masih diam-diam berdoa
pada arah yang sama.

Kita tak saling menyapa,
namun saling menunggu.
Tak saling menggenggam,
namun masih menjaga.

Aneh—
bagaimana hati bisa setia
bahkan dalam sunyi yang panjang.
Cinta ini berat,
nyaris jatuh dari namanya sendiri.

Namun setiap ingin menyerah,
harapan selalu datang terlambat,
namun cukup
untuk membuatku bertahan
satu malam lagi.

Jika suatu hari kita bertemu kembali,
aku ingin kau tahu:
di saat segalanya nyaris kandas,
aku tetap memilih percaya—
bahwa rasa yang bertahan dalam diam
bukan cinta yang kalah,
hanya cinta yang sedang berjuang
dengan caranya sendiri.

-sftmh- 

Comments