Perempuan yang Menahan Langit
Ia berdiri seperti tanah
yang berkali-kali diinjak musim,
namun tetap menyimpan benih
di dadanya yang sunyi.
Hujan jatuh di punggungnya,
angin menaruh beban di bahunya,
namun ia tak runtuh—
hanya diam,
lalu kembali menumbuhkan pagi.
Tangis disimpannya
di lipatan malam,
agar siang tetap punya cahaya
untuk anak-anaknya.
Ia tak meminta dunia lunak,
hanya cukup kuat
untuk menahan runtuh
agar yang lain tetap berdiri.
Dan bila kelak waktu menua,
namanya tak tertulis di sejarah,
namun langkahku akan selalu tahu:
dari siapa aku belajar
cara bertahan
tanpa kehilangan kasih.
-sftmh-
Comments
Post a Comment