Ratap Jiwa atas Makna yang Luruh
Ada letih yang tidak sekadar melelahkan, ia meluruhkan. Bukan tubuh yang runtuh terlebih dahulu, melainkan makna. Segala yang pernah diyakini perlahan kehilangan suara, seperti doa yang jatuh sebelum sempat sampai ke langit.
Langkah telah lama dipersembahkan, namun jalan tak memberi balasan. Waktu berlalu seperti pengkhianat yang sopan—ia berjalan terus, sementara jiwa tertinggal di satu titik yang tak lagi mampu menunjuk arah.
Letih ini tidak berteriak; ia menusuk dengan tenang. Ia berdiam di dada, menjadikan napas sekadar kebiasaan, bukan lagi kebutuhan yang dirindukan. Hidup tetap berlangsung, namun terasa asing, seolah jiwa hanya menjadi saksi atas hari-hari yang tak ia pilih.
Ada saat di mana harap terasa sebagai kesalahan paling sunyi. Bukan karena terlalu tinggi, melainkan karena terus dipelihara meski tak pernah disambut. Hati belajar menunduk, bukan demi rendah hati, melainkan agar tidak patah setiap kali menatap ke depan.
Namun bahkan dalam kepedihan yang nyaris kehilangan nama, jiwa tidak benar-benar lenyap. Ia hanya mengecil, bersembunyi di balik diam, menunggu luka selesai bicara dengan caranya sendiri. Maka bila hari ini hidup terasa seperti beban yang tak bisa diletakkan, ingatlah: ini bukan akhir dari makna, hanya jeda panjang di mana jiwa sedang belajar bagaimana bertahan tanpa harus berharap terlalu keras; dan jika suatu hari kamu masih mampu berdiri, itu bukan karena sakit telah pergi, melainkan karena kamu telah menjadikannya bagian dari dirimu tanpa membiarkannya menghabiskan seluruh dirimu.
-sftmh-
Comments
Post a Comment