Samudra yang Menyembuhkan
Kita adalah kapal
yang hampir pecah
di tengah samudra yang marah,
nyaris kehilangan arah.
Gelombang memukul,
angin merobek layar,
dan kita hampir tenggelam
dalam kebisuan sendiri.
Di dalam kapal yang bocor itu,
kita melihat bayangan diri—
ego yang menambatkan diri
pada kebanggaan dan luka.
Rasa mengapung tanpa arah,
badai bukan sekadar hujan,
ia adalah cermin
yang memaksa kita menatap kebenaran.
Ketika gelap mulai mereda,
kita menemukan tali yang putus,
lalu merajutnya kembali
dengan tangan yang lebih telaten.
Kau bukan lagi angin yang mengguncang,
aku bukan lagi ombak yang mengamuk,
kita belajar menjadi pelabuhan,
tempat pulang tanpa tuntutan sempurna.
Cinta kita seperti pohon tua:
daunnya tak lagi serimbun dulu,
namun akarnya jauh lebih dalam,
menahan runtuhnya waktu.
Kita tak lagi takut pada badai,
karena tahu kita bisa bertahan,
kita kembali—
sebagai pelaut yang lebih bijak.
Dan di laut yang tenang,
kita akhirnya sadar:
cinta yang bertahan
bukan yang paling indah,
melainkan yang paling kuat
menahan rapuhnya waktu.
-sftmh-
Comments
Post a Comment