Kita, Dua Pulau yang Selalu Pulang

Kita adalah dua pulau yang dipisahkan samudra luas—terlihat jauh, namun diam-diam saling memanggil dalam sunyi ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Jarak hanyalah air asin yang membentang, bukan pemutus, sebab akar rindu kita menembus dasar yang sama.

Badai kerap datang seperti utusan langit yang murka—mengguncang, mengaburkan arah, bahkan hampir menenggelamkan perahu kecil yang kita namai “kita”. Kita pernah terombang-ambing, terpisah oleh arus yang kejam, namun entah bagaimana, selalu ada arus lain yang lebih dalam—yang mengembalikan kita ke pelabuhan yang sama.

Engkau bagai kitab tua yang tak pernah usai kubaca—setiap halaman menyimpan makna yang kian dalam, meski terkadang ditulis dengan tinta luka. Dan aku, hanyalah pembelajar yang kerap salah menafsirkan, hingga tanpa sadar menggoreskan retak di lembar yang seharusnya kujaga.

Maafkan aku—jika aku adalah angin yang terlalu kencang hingga membuatmu goyah, jika aku adalah hujan yang datang di saat yang tak kau harapkan, atau jika aku adalah malam yang terlalu panjang hingga membuatmu lelah menunggu fajar.

Namun di antara segala yang rapuh, izinkan aku tetap menjadi rumah yang selalu kembali mencarimu—meski dalam reruntuhan, meski dalam diam. Sebab bagiku, kita bukan sekadar kisah yang singgah, melainkan takdir yang berulang kali menemukan jalannya pulang.


-sftmh- 

Comments