Pada Senja yang Enggan Berpamit

Pada suatu senja yang tak sempat kita beri nama, aku menyadari: kita sedang berdiri di sebuah persimpangan yang sunyi. Tiada papan penunjuk arah, tiada janji yang terpahat di batu. Hanya ada kita—dan desir angin yang mengabarkan keraguan.

Cinta kita bukan badai yang mengamuk, bukan pula taman yang senantiasa berbunga. Ia lebih menyerupai lautan purba: luas, dalam, dan menyimpan rahasia di dasar yang tak terjangkau. Kadang ia tenang, memantulkan langit di permukaannya. Kadang ia beriak, seolah hendak menelan segala tanya yang tak terucap.
Aku tak tahu ke mana kisah ini akan berlabuh.

Apakah kita akan menjadi dua nama yang terukir dalam satu takdir,
atau sekadar dua peziarah yang pernah berteduh di atap yang sama, sebelum akhirnya menempuh jalan masing-masing.

Namun di antara kabut yang menggelayut, ada satu hal yang pasti: aku tak ingin menjadi satu-satunya yang menggenggam. Cinta tak pernah diciptakan untuk dipikul seorang diri. Ia laksana lentera di tengah gulita—cahayanya hanya akan tegak bila dijaga oleh dua tangan yang setia.
Andai hari-hari mendatang adalah musim dingin yang panjang, maka marilah kita menjadi perapian bagi satu sama lain.

Andai keraguan menjelma bayang-bayang yang memanjang di dinding hati, maka kuatkanlah pijakanmu, sebagaimana akan kuperkuat langkahku.
Aku tak meminta janji yang megah.
Tak pula sumpah yang menggema hingga langit ketujuh.
Aku hanya memohon kesediaan: untuk tetap tinggal, untuk tetap berjuang, untuk tetap memeluk harapan meski ia rapuh seperti kaca.

Jika kelak jalan kita ternyata bersimpang dan takdir memilih kita untuk berpisah, biarlah semesta menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha sekuat daya yang kita punya. Bahwa kita tak menyerah sebelum benar-benar lelah.

Tetapi selama mata kita masih saling mencari di antara gelap, selama jemari kita masih dapat saling menemukan—
marilah kita sama-sama kuat.
Sebab terkadang, yang membuat cinta abadi bukanlah kepastian arah,
melainkan dua jiwa yang enggan beranjak meski dunia tak memberi peta.


-sftmh- 

Comments