Apa yang Tersisa dari Yang Pernah Ada

Pada suatu musim yang entah telah berapa lama pergi, aku pernah singgah dalam kebahagiaan yang begitu sederhana—begitu jujur, hingga tak sempat kupikir ia akan usai. Ia tidak datang dengan gegap gempita, melainkan merayap lirih seperti cahaya redup di sela senja, hangat namun rapuh, seolah tahu dirinya tak akan lama.

Kala itu, segala terasa cukup. Bahkan diam pun punya makna, bahkan hening pun terasa hidup. Ada rasa yang tak perlu diucap, sebab hati telah lebih dahulu saling mengerti. Tulus, tanpa cela, tanpa curiga—seperti dunia belum sempat mengajarkan luka.

Namun waktu, dengan tabiatnya yang kejam dan tak kenal iba, perlahan merenggutnya. Ia tak pergi sekaligus, melainkan luruh sedikit demi sedikit, seperti daun yang gugur tanpa pernah bisa menolak angin. Dan aku… hanya bisa menyaksikan, tanpa kuasa menahan, tanpa tahu harus merelakan.

Kini, yang tersisa hanyalah gema—sayup, samar, nyaris lenyap. Kebahagiaan yang dulu begitu dekat, kini terasa asing, seolah ia bukan lagi milikku, atau mungkin… aku yang tak lagi pantas memilikinya.

Ada jarak yang tak dapat kutempuh, ada masa yang tak dapat kujemput kembali. Dan sekeras apa pun aku mencoba mengingat rasanya, ia tetap tak utuh—seperti menggenggam air yang terus lolos di sela jemari.


-sftmh-

Comments