Ketika Diri Sendiri Menjadi Tempat yang Melelahkan
Ada hari-hari ketika aku merasa seperti rumah yang kutinggali sendiri—penuh, tetapi sunyi. Segalanya ada, namun tak selalu terasa utuh. Lelah yang datang bukan hanya dari dunia di luar, melainkan dari dalam diri yang terus berbicara tanpa jeda, menghakimi tanpa ampun.
Aku tahu, menjadi manusia berarti berproses.
Namun, ada kalanya aku tersandung pada bayanganku sendiri. Sifat-sifat yang dulu kuanggap biasa, perlahan berubah menjadi beban yang sulit kutanggung. Terlalu banyak berpikir, terlalu mudah merasa, terlalu keras pada diri sendiri—seolah aku adalah hakim sekaligus terdakwa dalam ruang yang sama.
Ada getir yang tak selalu bisa dijelaskan. Bukan karena aku tidak bersyukur, melainkan karena aku terlalu sering berharap bisa menjadi versi yang lebih sederhana dari diriku sendiri. Versi yang tidak mudah goyah, tidak cepat ragu, dan tidak berlebihan dalam mencinta maupun membenci.
Kadang aku bertanya, apakah wajar merasa lelah pada diri sendiri? Atau ini hanya bentuk lain dari ketidakmampuan menerima apa yang sudah melekat sejak lama?
Namun di sela-sela semua itu, aku mulai mengerti satu hal—bahwa membenci diri sendiri tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Ia hanya menambah luka pada bagian yang sebenarnya sedang berusaha sembuh. Dan mungkin, lelah ini bukan tanda bahwa aku gagal, melainkan isyarat bahwa aku sedang terlalu keras berjalan tanpa memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat.
Aku belum sepenuhnya berdamai. Tapi setidaknya, hari ini aku memilih untuk tidak menambah alasan membenci diriku sendiri. Karena jika bukan aku yang belajar memahami, lalu siapa lagi yang akan tinggal saat semuanya pergi?
Barangkali, menjadi dewasa bukan tentang berhenti merasa lelah atau berhenti kecewa pada diri sendiri. Melainkan tentang tetap memilih bertahan—meski dengan hati yang belum sepenuhnya pulih.
-sftmh-
Comments
Post a Comment