Ada Lelah yang Tak Pandai Menjelaskan Dirinya
Ada fase dalam hidup ketika seseorang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang kehilangan dirinya sendiri secara perlahan. Tetap tertawa, tetap menjawab pesan, tetap menjalani hari seperti biasa—namun di dalamnya terasa kosong, seolah hidup hanya berjalan karena memang harus dijalani.
Dan anehnya, kehampaan itu tidak selalu datang setelah kehilangan besar. Kadang ia tumbuh diam-diam, dari terlalu lama memendam, terlalu sering mengerti orang lain, sampai lupa bagaimana cara memahami diri sendiri.
Semakin dewasa, aku mulai mengerti bahwa tidak semua luka muncul dengan suara yang keras.
Ada yang hadir dalam bentuk lelah berkepanjangan, kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu dicintai, atau perasaan asing terhadap diri sendiri. Kita sering sibuk memperbaiki banyak hal di luar sana, tetapi menunda duduk sebentar dengan isi kepala sendiri.
Padahal, ada bagian dari diri yang diam-diam menunggu untuk didengarkan, bukan dihakimi.
Aku pernah berpikir bahwa menjadi kuat berarti tidak menunjukkan rapuh sama sekali. Hingga akhirnya kusadari, terlalu lama menahan diri juga bisa membuat seseorang kehilangan arah.
Ada lelah yang tidak bisa hilang hanya dengan tidur, ada sesak yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Dan di titik itu, aku mulai belajar bahwa menerima diri sendiri bukan tentang mencintai semua bagian yang ada, melainkan berhenti membenci setiap kekurangan yang dimiliki.
Mungkin pemulihan memang tidak selalu terlihat indah. Tidak selalu tentang menjadi lebih bahagia setiap harinya. Kadang pemulihan hanya berupa keputusan kecil untuk tetap bangun pagi, tetap makan meski tidak berselera, tetap mencoba hadir di hidup sendiri walau hati terasa jauh ke mana-mana. Dan mungkin, itu sudah cukup. Karena tidak semua orang sedang berusaha memenangkan hidup—beberapa hanya sedang berusaha agar dirinya tidak tenggelam lebih dalam lagi.
-sftmh-
Comments
Post a Comment