Pulang kepada Diri yang Tak Sempurna

Ada fase dalam hidup ketika aku berhenti menyalahkan keadaan, lalu mulai menoleh ke dalam—ke tempat di mana semua keputusan pernah lahir tanpa cukup pertimbangan. Di sana, aku menemukan jejak-jejak kesalahan yang dulu ingin kulupakan, tetapi nyatanya tetap tinggal, diam-diam membentuk siapa aku hari ini.
Aku pernah menjadi versi diriku yang tidak membanggakan.

Mengatakan hal-hal yang seharusnya tak diucapkan, mengambil sikap yang melukai, dan memilih jalan yang pada akhirnya menyisakan penyesalan. Tidak semua orang tahu, tapi aku tahu. Dan itu cukup untuk membuatku sesekali merasa asing pada diriku sendiri.

Hari ini, aku tidak ingin lagi bersembunyi di balik alasan atau pembenaran. Aku belajar mengakui bahwa aku memang jauh dari kata baik. Bukan dalam arti aku tidak punya niat baik, tetapi karena aku pernah gagal menjaganya tetap utuh dalam tindakan.

Untuk itu, aku ingin meminta maaf.
Kepada diriku sendiri—maaf karena pernah memaksamu berjalan tanpa arah, karena terlalu sering mengabaikan batas, dan karena membiarkanmu menjadi seseorang yang bahkan sulit kau terima. Maaf karena aku tidak selalu menjadi tempat yang aman untukmu.

Dan kepada mereka yang pernah tersakiti olehku—meski mungkin kata maaf ini tidak akan sampai, atau tidak lagi berarti apa-apa—aku tetap ingin mengakuinya. Aku pernah salah. Aku pernah melukai. Dan tidak ada kalimat yang cukup untuk menghapus itu semua.

Namun, kesadaran ini bukan untuk mengurungku dalam rasa bersalah selamanya. Aku memilih untuk menjadikannya titik balik. Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi lebih jujur, lebih hati-hati, dan lebih bertanggung jawab atas siapa aku ke depannya.

Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku bisa memastikan bahwa aku tidak lagi berjalan dengan cara yang sama.
Mungkin, menjadi dewasa memang sesederhana ini—berani mengakui bahwa kita pernah salah, lalu tetap memilih untuk berubah tanpa menuntut pengampunan dari siapa pun.


-sftmh- 

Comments

Popular Posts