Asap Dari Pelita yang Mati

Malam menjahit namaku pada sunyi, dan aku berjalan dengan bayang sendiri sebagai saksi. Lelah ini menjelma karat di tulang, menggerogoti sabar yang dahulu kukira abadi. Dadaku adalah ruang kosong tempat gema doa mati perlahan, tak sempat menjadi harap, tak cukup kuat menjadi ampun.

Hampa itu laksana sumur tua: dalam, dingin, dan tak memantulkan wajah. Aku menimba hari demi hari, namun yang terangkat hanya debu kenangan dan rasa getir yang tak kunjung surut. Waktu pun berlalu seperti penjagal yang telaten—tak tergesa, tapi pasti—menguliti sisa-sisa keyakinan hingga telanjang.

Aku lelah memikul terang yang tak pernah menyala. Lelah menyebut esok sebagai janji, padahal ia selalu datang dengan wajah yang sama: pucat, bisu, dan asing. Jiwaku seperti pelita kehabisan minyak—masih berdiri, namun nyalanya hanya asap, menandai akhir tanpa api.

Jika kelak aku terdiam, biarlah itu bukan ratap, melainkan jeda terakhir sebelum segala rasa membatu. Sebab tak semua yang bertahan adalah hidup, dan tak semua yang diam adalah tenang. Ada lelah yang terlalu tua untuk menangis, dan hampa yang terlalu pekat untuk diberi nama.



-sftmh-

Comments

Popular Posts