Embun yang Mengikis

Kadang lelahku bukan dari dunia, tapi dari lorong gelap di dalam kepala sendiri,
di mana bayangan pikiranku menari tanpa henti, menjerat langkah dan napasku.

Aku mencoba menyalakan lentera, tapi cahaya itu redup, dan bayang-bayang itu semakin menebal.
Setiap usaha untuk menenangkan gelombang itu bagaikan menadah air di pasir kering:
semakin dicoba, semakin hilang, semakin memaksa aku menyerah pada derasnya arus.

Pikiran itu tumbuh liar, merambat seperti akar pohon tua, menembus relung-relung energi yang tersisa.
Aku membiarkan semuanya mengalir, namun diamku tidak menjadi pelipur lara.

Seperti embun yang menetes ke tanah kering, setiap tetes menambah beban,
mengikis tenaga, mengeringkan jiwa, meninggalkan jejak kelelahan yang pekat dan sunyi.
Di ujung hari, aku hanyut di antara rasa lelah dan stres,
seperti kapal tanpa layar di laut yang tenang namun menipu.

Hanya pikiran yang tersisa sebagai nahkoda, menggerakkan aku ke arah yang tak mampu kutentukan,
sementara aku belajar, terkadang musuh terliar adalah diri sendiri yang diam-diam mencuri energimu.



-sftmh- 

Comments

Popular Posts