Lorong Sunyi yang Tercabik
Di padang sunyi kala kanak-kanakku bersemi,
tawa melekat di dedaunan bagai embun pagi.
Namun angin bisu datang merampas cahaya,
meninggalkan lorong kelam yang menelan langkahku.
Bayang-bayang hitam berkerumun di tepian waktu,
menutup dunia, menelan gema tawa yang lirih.
Langkah-langkah kecilku tersesat di tanah hangus,
jejak-jejak hilang terserap debu yang dingin nan pekat.
Tangisku menjadi sungai sunyi yang deras,
mencabik sisa cahaya yang tersisa di lorong gelap.
Detik menekan, menumbuhkan dinding waktu dingin,
menyimpan bisikan luka yang tak terdengar oleh dunia.
Aku memungut serpihan hari dengan tangan gemetar,
merajut tawa yang tercerai oleh malam.
Namun getir menancap di akar masa lalu,
dan embun pun tak mampu menyirami hatiku.
Dinding malam menutup perlahan jalanku,
bayangan masa lalu menari dengan tangan dingin.
Lorong-lorong sunyi menjadi cermin luka,
membiarkan cahaya larut dalam kelam abadi.
Angin malam membawa bisik pahit,
menyusup ke celah hati yang rapuh dan temaram.
Tubuh masih di sini, namun jiwa terkoyak,
terperangkap di gulita yang menekan diam-diam.
Dari reruntuhan masa kecil yang tercabik,
aku belajar menyalakan obor di gulita.
Gelap menjadi ladang bagi api yang tersembunyi,
luka menurunkan keberanian yang pekat nan tajam.
Akar kekuatan tumbuh di reruntuhan bayang,
setiap serpihan hari menjadi saksi sunyi.
Langkah-langkah kugenggam dengan tegar,
meski tiap hembusan membawa getir kelam.
Cahaya yang hilang menuntunku perlahan,
di lorong sunyi tempat tawa pernah berteduh.
Bayang-bayang tercabik tetap membimbingku,
menyemai harapan di antara reruntuhan malam.
Dan meski masa kecilku direnggut malam,
aku berjalan membawa obor sendiri.
Setiap langkah adalah kemenangan sunyi,
menyalakan hari dari lorong sunyi yang tercabik.
-sftmh-
Comments
Post a Comment