Belajar Diam Tanpa Tenggelam
Pikirannya seperti ruangan penuh berkas yang belum sempat disusun—bukan berantakan karena ceroboh, melainkan karena terlalu banyak hal penting datang bersamaan. Ia berdiri di tengahnya, tidak panik, hanya lelah. Ia tahu, tidak semua berkas harus dibuka hari ini.
Kecemasan datang seperti gelombang kecil yang terus memukul tepi, berulang dan melelahkan.
Namun ia memilih menjadi pantai yang diam, menerima tanpa perlu tenggelam. Ia belajar bahwa melawan arus hanya akan menghabiskan tenaga, sementara diam sejenak bisa menyelamatkan napas.
Tenang baginya bukan langit tanpa awan, melainkan kemampuan menjadi jangkar saat cuaca berubah. Ia menahan diri dari kesimpulan terburu-buru, membiarkan waktu melakukan pekerjaannya, seperti hujan yang pelan-pelan membersihkan debu.
Di antara pikiran yang masih ramai, ia tetap melangkah. Pelan, sadar, tanpa keinginan untuk terlihat kuat. Karena kedewasaan bukan soal selalu terkendali, melainkan tahu kapan harus berhenti, bernafas, dan membiarkan diri sendiri utuh kembali.
-sftmh-
Comments
Post a Comment