Aku: Gema yang Tak Menemukan Asal

Ada saat-saat di mana lidahku menjelma arus deras—mengalir tanpa tedeng aling-aling, menghamburkan kata seolah dunia takkan sempat runtuh sebelum aku selesai bercerita. Suaraku riuh, penuh, bahkan mungkin berlebihan; seakan sunyi adalah musuh yang harus dikalahkan dengan gema.

Namun di lain waktu, aku menjadi telaga yang membeku. Diamku panjang, dalam, dan tak terjamah. Kata-kata berkerumun di ambang bibir, tetapi enggan menjelma suara—seolah ada sesuatu yang menahannya, sesuatu yang bahkan aku sendiri tak kuasa menamai.
Di antara gaduh dan sepi itu, aku terombang-ambing.

Aku bertanya pada diriku sendiri—apakah aku terlalu banyak bicara, atau justru terlalu banyak menyembunyikan? Apakah riuhku adalah topeng, dan diamku adalah luka? Atau keduanya hanyalah cara jiwaku berkelana mencari rumahnya?.

Rasanya seperti berjalan di lorong tanpa ujung—hampa, bergema, namun tak pernah benar-benar terisi. Aku ada, tetapi seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuhnya; hadir, tetapi samar.

Dan dalam kebingungan itu, aku hanya bisa berdiri—menjadi saksi bagi diriku sendiri, yang kadang terlalu penuh, kadang terlalu kosong, namun selalu berusaha mengerti arti dari sekadar "ada".


-sftmh- 

Comments

Popular Posts