Pada Bahu yang Tak Ingin Memberatkan

Aku bukan hendak menjadi beban,
meski langkahku kerap goyah dan suaraku nyaris patah.
Di antara riuh dunia yang tak pernah benar-benar peduli,
aku hanya seseorang yang berusaha berdiri tanpa menjatuhkan siapa pun di sekelilingnya.

Namun, entah mengapa,
setiap hadirku terasa seperti tambahan luka
yang tak diundang,
seperti hujan yang turun di saat atap-atap telah retak,
menyusup tanpa permisi,
membuat segalanya semakin runtuh.

Maaf—
kata yang terlampau sering kugenggam,
hingga ia kehilangan bentuk, kehilangan makna,
namun tetap saja kuucapkan
seperti doa yang putus asa.
Aku tahu,
tak semua lelah harus dibagi,
tak semua duka harus diceritakan.

Maka kupendam diriku sendiri
dalam sunyi yang perlahan menjadi rumah,
meski dinginnya tak pernah benar-benar bisa kupeluk.
Aku belajar mengecilkan diri,
menyusutkan harap,
agar tak lagi ada yang merasa terganggu
oleh keberadaanku yang barangkali terlalu banyak meminta,
terlalu banyak hadir.

Padahal, di sudut yang tak pernah terlihat,
aku pun berperang dengan diriku sendiri—
menahan runtuh yang tak sempat kusampaikan,
menyembunyikan retak yang tak pernah sempat diperbaiki.

Bila suatu hari aku tampak menjauh,
bukan karena tak peduli,
melainkan karena aku takut
menjadi sebab letih yang lain.

Dan jika aku terlampau sering meminta maaf,
itu bukan semata kebiasaan—
melainkan sisa-sisa keyakinan
bahwa mungkin,
keberadaanku memang terlalu berat
untuk dipikul oleh siapa pun.

Maka izinkan aku belajar,
perlahan,
menjadi ringan—
meski harus dengan cara menghilang
dari banyak hal yang dahulu kusebut pulang.


-sftmh-

Comments

Popular Posts