Resonansi Jiwa yang Tersesat

Aku berdiri di tepi waktu, menatap masa depan yang seolah terbungkus kabut tebal. Hampa ini bukan sekadar kekosongan; ia seperti ruang antara detik dan napas, di mana setiap pikiran menari tanpa tujuan. Bingung menyelimuti pikiranku, seperti daun-daun gugur yang terseret arus sungai musim gugur—indah, tapi tak tentu arah.

Aku takut. Takut pada hari esok yang belum pernah kukenal, pada pilihan yang bisa mengubah arah kehidupanku, pada kehilangan yang selalu mengintai di balik senyum. Bayangan seseorang yang tak bisa kulupakan menambah resonansi rasa itu, seperti gema yang menempuh lorong-lorong jiwa, menghadirkan rindu dan sekaligus kekosongan.

Hidup terasa seperti lukisan kabur, di mana warna-warna ketakutan, keraguan, dan harapan bercampur tanpa pola yang pasti. Aku adalah perahu kecil di tengah samudra malam; gelombang kegelisahan memukul tanpa henti, angin rindu meniup layar hatiku, sementara bintang-bintang harapan tersembunyi di balik awan.

Namun, di tengah melankoli ini, aku mulai belajar. Hampa bukanlah musuh, tapi sahabat yang sunyi, yang mengajarkan kesadaran diri. Bingung itu wajar; ketakutan itu manusiawi; rindu itu bukti bahwa hatiku masih hidup. Semua ini—keraguan, hampa, kecemasan—adalah diksi-diksi jiwa, bahasa halus yang berkata: “Aku hadir, aku merasakan, aku hidup.”

Dan mungkin, suatu saat nanti, kabut itu akan tersingkap. Sampai saat itu tiba, aku memilih untuk duduk sejenak di antara hampa dan rindu, menikmati sunyi yang lembut, dan meresapi setiap detik ketidakpastian. Karena dalam setiap ketakutan, ada keberanian; dalam setiap bingung, ada pembelajaran; dan dalam setiap hampa, ada kesempatan menemukan diriku sendiri.


-sftmh- 

Comments

Popular Posts