Ternyata, Ada Banyak Hal yang Berubah Setelah Aku Terluka
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah benar-benar diketahui orang lain tentang diriku. Ada luka yang sampai sekarang masih sulit untuk kuceritakan, bukan karena aku sudah melupakannya, justru karena aku masih terlalu ingat bagaimana rasanya, kadang aku ingin sekali bercerita. Ingin menjelaskan kenapa ada hal-hal tertentu yang bisa membuatku berubah suasana hati, kenapa beberapa perkataan bisa begitu lama tinggal di pikiranku, atau kenapa terkadang aku bisa tiba-tiba merasa lelah padahal tidak sedang melakukan sesuatu yang berat.
Aku ingin seseorang tahu bahwa ada banyak hal yang selama ini hanya aku hadapi sendiri, tapi ketika kesempatan untuk bercerita datang, aku malah bingung harus mulai dari mana, aku takut ceritaku terdengar terlalu panjang, takut dianggap berlebihan, takut orang lain berpikir bahwa aku terlalu memikirkan masa lalu, dan yang paling aku takutkan, setelah aku menceritakan semuanya, aku justru merasa malu karena sudah terlalu terbuka, jadi aku memilih diam. Aku bilang aku baik-baik saja, aku mengalihkan pembicaraan, aku bercanda, lalu kembali menjalani hari seperti biasa, padahal ada bagian dari diriku yang sebenarnya belum selesai dengan apa yang pernah terjadi.
Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa luka tidak selalu terlihat dalam bentuk tangisan, kadang luka muncul dari kebiasaan terlalu banyak berpikir, dari rasa takut mengecewakan orang lain, dari sulit mengatakan tidak, dari terlalu sering, mempertanyakan apakah diri sendiri sudah cukup baik, atau dari kebiasaan meminta maaf bahkan ketika sebenarnya tidak melakukan kesalahan, bahkan terkadang, ketika seseorang tiba-tiba berubah sikap, pikiranku langsung sibuk mencari kesalahan di dalam diri sendiri. Dulu aku tidak terlalu mempertanyakan semua itu. Aku hanya menganggapnya sebagai bagian dari diriku.
“Aku memang begini.”
Padahal mungkin ada alasan mengapa aku belajar menjadi seperti itu, ada pengalaman yang membuatku terbiasa berhati-hati, ada keadaan yang membuatku belajar membaca perubahan sikap orang lain, ada masa ketika diam terasa lebih aman daripada menjelaskan perasaan sendiri, dan ada banyak hal yang akhirnya kusimpan terlalu lama karena aku tidak tahu harus membaginya dengan siapa. Mungkin itu juga alasan mengapa hal-hal kecil terkadang terasa begitu besar bagiku, bukan karena aku ingin membesar-besarkan sesuatu, hanya saja, beberapa hal menyentuh bagian dalam diriku yang sudah lama sensitif.
Satu kalimat bisa mengingatkan pada banyak hal, satu sikap bisa membuat pikiranku pergi terlalu jauh, satu kejadian kecil bisa membuka kembali perasaan yang selama ini kukira sudah selesai. Dan ketika itu terjadi, aku sering kembali bertanya,
“Kenapa aku masih seperti ini?”
Sekarang aku mencoba mengubah pertanyaan itu, bukan lagi tentang kenapa aku terlalu sensitif. Bukan tentang kenapa aku tidak bisa seperti orang lain. tapi tentang apa yang sebenarnya pernah kulalui sampai aku belajar menghadapi semuanya dengan cara seperti ini, aku mulai memahami bahwa diriku tidak berubah tanpa alasan, ada pola yang terbentuk karena pengalaman, ada cara bertahan yang dulu mungkin membantuku melewati keadaan tertentu, tetapi sekarang justru terkadang membuatku lelah, dan menyadari hal itu membuatku belajar melihat diriku dengan sedikit lebih lembut, bukan berarti aku membenarkan semua reaksiku, bukan berarti semua kesalahan harus disalahkan pada masa lalu. Aku tetap punya tanggung jawab untuk belajar berubah.
Tetapi berubah tidak harus dimulai dengan membenci diri sendiri, aku bisa memperbaiki diri sambil tetap mengakui bahwa aku pernah terluka, aku bisa belajar menjadi lebih kuat tanpa berpura-pura bahwa semuanya tidak pernah menyakitkan, aku bisa menerima bahwa ada bagian dari diriku yang masih membutuhkan waktu, karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk berusaha terlihat baik-baik saja sampai lupa bertanya kepada diriku sendiri.
“Sebenarnya aku baik-baik saja, atau hanya sudah terbiasa menahannya?”
Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab, tetapi setidaknya sekarang aku mulai berani mengakuinya, aku memang belum bisa menceritakan semuanya, belum bisa menjelaskan setiap perasaan dengan kata-kata yang tepat, belum bisa mengatakan kepada semua orang apa yang sebenarnya terjadi di dalam diriku. Dan mungkin tidak apa-apa, aku tidak harus menceritakan semuanya sekaligus hanya untuk membuktikan bahwa lukaku nyata, aku juga tidak harus menjelaskan rasa sakitku kepada orang yang memang tidak ingin memahami. Yang perlu kulakukan sekarang adalah belajar untuk tidak terus mengabaikan diriku sendiri.
Kalau aku sedang lelah, aku ingin belajar mengakuinya, kalau sesuatu menyakitiku, aku ingin belajar mengakuinya. Kalau aku membutuhkan seseorang, aku ingin belajar bahwa meminta ditemani bukan berarti aku lemah, dan kalau suatu hari nanti aku sudah siap untuk bercerita, semoga aku bisa menemukan seseorang yang mau mendengarkan tanpa membuatku merasa harus meminta maaf karena pernah terluka, sebab mungkin, selama ini aku bukan tidak ingin bercerita. Aku hanya belum menemukan tempat yang terasa cukup aman untuk mengatakan semuanya.
Dan sampai hari itu datang, aku ingin setidaknya menjadi tempat yang aman bagi diriku sendir, tidak menghakimi, tidak memaksa untuk segera sembuh, tidak terus bertanya kenapa aku belum bisa melupakan, hanya belajar memahami. Pelan-pelan.
Karena ada luka yang memang belum berhasil kuceritakan kepada siapa pun.
Tetapi bukan berarti aku harus terus hidup seolah-olah luka itu tidak pernah ada.
-sftmh-
Comments
Post a Comment